oneUMMAH

Posted in Artikel Dahsyat on August 7th, 2010 by rahmatf06


Tags:

Belajar dalam Madrasah Ramadhan

Posted in Artikel Dahsyat on August 7th, 2010 by rahmatf06

Allama Muhammad Iqbal pernah berkisah tentang dirinya, ayahnya dan al-Qur’an. “Saya biasa membaca al-Qur’an selepas shalat subuh. Dan ayah, selalu mengawasi,” tuturnya.

Tidak saja mengawasi, sang ayah juga bertanya. “Apa yang kamu lakukan?” tanya sang ayah. Padahal jelas-jelas sang ayah melihat anaknya sedang mengaji.

“Aku menjawabnya, sedang membaca al-Qur’an,” kenang Muhammad Iqbal. Pertanyaan itu diulang-ulang oleh sang ayah setiap pagi, selepas subuh, selama tiga tahun penuh. Jawaban yang diberikan juga sama, setiap pagi, selepas subuh, setahun penuh, Muhammad Iqbal menjawab sedang mengaji al-Qur’an.

Lalu, suatu hari Muhammad Iqbal memberanikan diri bertanya kepada sang ayah. “Mengapa ayah selalu menanyakan pertanyaan yang sama, padahal jawaban saya juga selalu sama?”

“Nak, bacalah al-Qur’an itu seolah-olah diturunkan langsung kepadamu.” Dan sejak saat itu, Muhammad Iqbal mengetahui apa pesan di balik pertanyaan ayahnya. Sejak saat itu pula, Muhammad Iqbal senantiasa membangun atmosfir di dalam dirinya, seolah-olah al-Qur’an itu turun langsung untuknya. Muhammad Iqbal tidak saja membaca, tapi juga mencoba mengerti. Tidak saja mampu mengerti, tapi juga memahami. Tidak sebatas memahami, tapi juga mengejawantah. Tidak saja mengejawantah, tapi juga mencoba untuk menyampaikan kembali isi al-Qur’an seperti yang dipahaminya.

Maka hari ini kita mengenang nama Muhammad Iqbal sebagai salah satu tokoh besar dalam dunia Islam. Bahkan beberapa kalangan menyebutnya sebagai salah satu mujaddid atau pembaharu dalam sejarah Islam. Muhammad Iqbal pantas dan layak menjadi besar, sebab yang ia baca, mengerti, pahami, serta ejawantah dan yang ia sampaikan adalah hal yang sangat besar: al-Qur’an.

Dan lebih dari segalanya, ia mampu membangun sesuatu yang sangat besar: perasaan bahwa al-Qur’an diturunkan langsung untuk dirinya.

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur,” (QS al-Baqarah: 185).

Hari ini, kurang lebih ada 1,6 milyar manusia yang berikrar sebagai seorang Muslim. Mereka tersebar di seluruh penjuru dunia. Di Barat dan di Timur. Masing-masing berjibaku dengan hidupnya. Masing-masing sibuk dengan segala agenda. Mencoba memecahkan segala masalah dalam berbagai peristiwa. Bertarung dengan pilihan-pilihan yang tidak ringan dalam kehidupan. Sampai-sampai akhirnya mereka lupa, bahwa sesungguhnya Sang Pencipta Manusia telah membekali kitab panduan tempat segala masalah menemukan jawaban, tempat segala musykilah menemukan rujukan. Al-Qur’an.

Dengan terang Allah SWT menyebutkan, Dia tidak menghendaki kesukaran untuk kita. Dia menghendaki kemudahan untuk manusia.

Hari ini, berapa banyak orang yang mampu membangun atmosfer seperti yang telah mampu dibangun oleh Muhammad Iqbal. Di belahan Asia Tenggara ini sama, kaum Muslimin berjumlah tak kurang dari 400 juta manusia. Dan hampir setengah dari jumlah di atas, lahir, hidup dan tinggal di Indonesia. Negeri dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.

Mari kita ulang pertanyaannya. Berapa banyak dari jumlah Muslimin di Indonesia yang memiliki perasaan yang sama dengan Muhammad Iqbal? Atau kita perlu mengerucutkan sasaran pertanyaan. Berapa banyak pemimpin-pemimpin umat Islam yang mampu menghadirkan perasaan, bahwa al-Qur’an ini diturunkan untuk dirinya, bukan untuk orang lain, bukan untuk jamaah lain, bukan untuk kaum yang lain? Berapa banyak!?

Bulan ini adalah bulan penuh berkah. Bulan diturunkannya al-Qur’an yang mulia, petunjuk bagi manusia. Jika hari ini kaum Muslimin mampu menghadirkan rasa di atas di dalam jiwa, insya Allah, 50 persen dari masalah sudah teratasi dengan sendirinya. Baik masalah internal ataupun eksternal.

Dan jika kita sudah mampu melakukannya, insya Allah kita juga berani dengan gagah akan berkata, “Takun daulatal islamiyah fii qalbika takun fi ardhika.” Tegakkan dulu Islam di hatimu, maka dia akan tegak sendirinya di muka dunia. Amin.

sumber: http://www.sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2323:belajar-dalam-madrasah-ramadhan&catid=88:herry-nurdi&Itemid=288

Tags: , ,

Jelang Ramadhan, Permintaan Jilbab di Papua Meningkat

Posted in Artikel Dahsyat on August 7th, 2010 by rahmatf06

Permintaan busana muslim di sejumlah pasar, seperti Youtefa dan Pasar Ampera, Jayapura, ibukota Provinsi Papua dilaporkan mengalami peningkatan sejak sepekan terakhir. “Permintaan masyarakat akan busana muslim memang sudah mulai meningkat sejak sepekan sebelum memasuki masa puasa.Kebanyakan yang dibeli adalah jilbab dan baju,” kata seoarang pedagang pakaian muslim di pasar Youtefa, Zukhikri, di Jayapura, Kamis.

Selain itu, katanya, banyak pula masyarakat yang membeli kain sarung, mukena dan sajadah untuk keperluan shalat. “Biasanya para pembeli ramai pada pagi hari sekitar pukul 09:00 WIT dan sore hari sekitar pukul 15:30 WIT,” ujarnya.

Zulhikri memperkirakan permintaan busana muslim dan keperluan ibadah tetap meningkat dan akan berlangsung hingga satu hari menjelang hari raya Idul Fitri. Sementara untuk harga jualnya, lanjut Zulhikri, tidak mengalami kenaikan. Harga jilbab berbagai merek antara Rp20 ribu-Rp150 ribu/potong, baju muslim pria dan wanita mulai Rp45 ribu hingga Rp750 ribu/potong serta mukena Rp50.000-Rp100.000/potong.

Sejumlah pedagang pakaian muslim di pasar Ampera, Jayapura, juga mengakui tingginya permintaan busana muslim tersebut sehingga mulai menambah stok barang persediaan. “Kita memang sengaja menambah stok, terutama untuk jilbab dan mukena,” kata Faisal, seorang pedagang busana muslim di pasar Ampera.

Ia mengemukakan, meskipun permintaan busana muslim oleh masyarakat mulai tinggi, namun para pedagang tidak menaikkan harga. “Kita tetap jual seperti harga biasa, kecuali kalau di agen menaikan harga maka kita juga pasti akan menyesuaikan,” kata Faisal.

Sementara Maya, salah seorang pembeli jilbab di pasar Youtefa mengaku sengaja membeli lebih awal karena takut harganya naik. “Saya takut harga jilbab akan naik kalau sudah dekat idul fitri, makanya saya langsung membeli saja, untuk mengganti punya saya yang relatif sudah kusam,” paparnya. (ant)

sumber: http://www.sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2327:jelang-ramadhan-permintaan-jilbab-di-papua-meningkat&catid=86:tijarah&Itemid=285

Tags: ,

Belum Masa Memetik Buah

Posted in Artikel Dahsyat on June 29th, 2010 by rahmatf06

Oleh: Herry Nurdi
Rabu, 23 Juni 2010

Saya sering mengandaikan, negeri tercinta ini sebagai sebuah lahan. Tanah yang subur, makmur dan penuh harapan. Tapi, sebagai lahan garapan, Indonesia yang begitu kaya ini telah terlalu lama dirusak.
Mari kita hitung dengan cermat, berapa kuantitas dan kualitas kerusakan yang dialami dan diderita Indonesia. Negeri ini, tanah, air dan rakyatnya dikuasai penjajah Belanda, konon ratusan tahun lamanya. Sebut saja 350 tahun, begitu yang tertera dalam buku pelajaran sejarah di sekolah. Kualitas kerusakannya, juga luar biasa, tak hanya materi. Terjadi politik adu domba, sekulerisasi hukum dan di bidang sosial lainnya.
Lalu Inggris, meski tidak terlalu lama, hanya peralihan kekuasaan saja di bawah Rafless. Konon, dijajah Inggris adalah keberuntungan tersendiri. Sebab, Inggris disebut mencerdaskan bangsa jajahannya. Tapi tetap saja, namanya penjajah selalu memberikan lebih banyak kerugian dibanding manfaatnya untuk Indonesia, bangsa yang dijajahnya.
Kemudian dua setengah tahun di bawah kekuasaan Dai Nippon, bangsa ini sudah merasakan betapa pahitnya dipaksa menyembah matahari setiap pagi. Ritual ini biasa disebut seikere. Siapa saja yang menolak seikere, Kenpetai akan menyiksanya. Belum lagi kerja paksa bernama Romusa dan perkosaan perempuan besar-besaran dalam sejarah Indonesia yang bernama Jugun Ianfu.
Sebelum merdeka, bangsa ini punya luka besar yang menganga. Ketika merdeka, sepintas lalu seolah kita punya kesempatan untuk mengobati luka dan mengolah lahan secara berdaulat. Tapi lagi-lagi kekuasaan Orde Lama, tak terlalu bisa kita sebut sebagai kekuatan penyelamat. Kekecewaan terjadi di sana-sini, bahkan di akhir masa rezimnya, negeri ini diajak untuk menjauh dari Tuhan dengan mengakui sistem komunis sebagai salah satu pilihan.
Tumbang Orde Lama, tumbuh Orde Baru. Lagi-Lagi negeri ini menyambutnya dengan penuh harapan. Tapi rupanya, selama 32 tahun negeri ini diolah semaunya, seolah-olah lahan milik pribadi dan bukan milik bersama. Dan setelah rezim tumbang, yang tersisa kini, hanya kubang yang besar. Hutangnya sampai beranak cucu.
Kurang lebih, baru 12 tahun, semangat kebaikan mendapat tempat dan kesempatan. Reformasi, gerakan Islam tumbuh dengan berbagai wadah dan wajahnya. Ada yang berbentuk partai, ada pula yang merintis gerakan, tak kurang jumlahnya yang mengambil manhaj (metode) organisasi kemasyarakatan.
Mereka kerja membangun negeri, mengolah lahan dengan semangat kebaikan. Baru 12 tahun, sejak 1998. Itupun ditingkahi dengan segala macam rintangan yang tak pernah ringan. Ada gerakan kebebasan, ada geliat globalisasi dan ada arus besar pemikiran yang membahayakan.
Baru 12 tahun. Tanahnya, belum lagi subur. Kita masih harus menata lagi irigasi dan pematang. Kita masih harus menyiangi lahan, siang dan malam. Memupuknya. Menanam benih unggulan. Juga menjaganya dari wereng dan hama lainnya yang siap mengancam.
Tapi, sungguh ironis. Di tengah proses berat sedemikian rupa, ternyata ada saudara-saudara kita yang merasa sudah tiba saatnya memetik buah. Bahkan lebih menyeramkan lagi. Sebagian dari mereka ada yang menganggap, sudah tiba masanya panen raya.
Dengan segala dalil, mereka membangun dalih agar mendapatkan pembenaran untuk menikmati usaha yang sedang sama-sama dilakukan. Kata-kata memukau diumbar obral. Ada yang bilang strategi. Ada yang menyebut diplomasi. Bahkan tak sedikit yang mengatakan, bahwa idealisme dan pragmatisme adalah satu kesatuan yang harus selalu bersandingan.
Apapun yang kita lakukan, dimanapun kita melakukannya, seharusnya kita hanya menggunakan satu ukuran. Untung rugi yang kita dapatkan harus diukur, apakah sama dengan untung rugi yang didapatkan Islam. Bukan atas pertimbangan untung rugi politik, diplomatik, juga strategik. Karena, apa yang dianggap untung oleh kacamata strategi dan politik, belum tentu simetris dalam arti ideologik.
Pejuang dan pahlawan, seharusnya tak demikian. Mereka punya cita-cita kemenangan, dan bekerja untuk mewujudkannya. Tapi pejuang dan pahlawan sejati, tak pernah mencuri kemenangan untuk dirinya sendiri. Bahkan mereka tak pernah berpikir untuk ikut menikmati perjuangan yang dilakukan. Mereka adalah patriot sejati.
Terlalu lama negeri ini dirusak. Dan perlu waktu yang lebih lama lagi untuk memperbaiki dan menyuburkannya kembali. Sekarang belum masanya memetik buah, apalagi panen raya. Jangan menjadi satu lagi golongan yang merusak negeri yang hari ini dititipkan. Bekerja saja. Berjuang saja. Allah tidak pernah lupa. Allah tak mungkin salah. Dia Maha Tahu, siapa melakukan apa. Dan pasti akan membalasnya.

Sumber: http://www.sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2191:belum-masa-memetik-buah&catid=88:herry-nurdi&Itemid=288

Posted by: rfline0610
http://rahmatf06.student.ipb.ac.id

Tags:

Belajar Tidak Cengeng

Posted in Artikel Dahsyat on June 29th, 2010 by rahmatf06

Oleh: Herry Nurdi
Jumat, 21 Mei 2010

Sesungguhnya ada banyak momen dalam kehidupan kita yang bersifat perselisihan dan ketidaksamaan. Karena memang begitulah hidup. Terdiri dari beragam sifat, yang terhimpun dalam satu peristiwa, karenanya tak mungkin memaksakan kehendak untuk sama.

Pada banyak peristiwa itu, peran yang seharusnya dimainkan oleh manusia adalah tidak menjadikan kerikil menjadi sebuah batu besar, apalagi membuatnya nampak seperti gunung. Perselisihan kecil, tak perlu dibesar-besarkan. Perbedaan besar, jangan pula diapi-api sehingga membakar.

Tapi kadang, kita memang sering tergoda untuk berlebihan. Saya sendiri sering terjebak dan lalai, melakukannya. Syukurnya, setiap kali saya melakukannya, masih sempat beristighfar memperbaiki kesalahan.

Misalnya, memperbesar masalah ketika saat menunaikan puasa sunnah. Tidak menemukan makanan di rumah saat berbuka. Lalu muncul pertanyaan-pertanyaan yang benar-benar remeh, kecil, tapi kemudian diperbesar, diperlebar, diperpanjang. Kenapa tidak ada makanan? Apa yang menjadikan tidak sempat memasak? Apakah tidak memperhatikan? Begitulah.

Seketika saya teringat perilaku Rasulullah, yang tak pernah memperbesar masalah-masalah kecil, yang memang semestinya tak menjadi besar. Misalnya, ketika waktu dhuha Rasulullah bertanya tentang makanan apa yang ada, tapi tak ada makanan untuk hari itu. Dengan ringan, Rasulullah, manusia lembut pekerti dan berbudi tinggi itu berkata, ”Kalau begitu, hari ini aku puasa.”

Duhai, siapa yang tak rindu dan tak ingin menjadikan perilaku beliau sebagai uswah hasanah? Seringkali saya merasa ngilu di ulu hati, karena malu campur sedih. Padahal, saya sadar betul, betapa menyenangkan hasilnya, ketika kita tidak terjebak memperbesar masalah. Dasar manusia!

Pernah Rasulullah bertamu ke rumah salah seorang shahabiyah yang bernama Ummu Hanik bin Abu Thalib yang terhitung masih kerabat beliau. Dan kebetulan, beliau dalam keadaan lapar juga waktu itu. ”Apakah engkau mempunyai makanan yang bisa dimakan?”

”Saya tidak memiliki makanan kecuali serpihan roti kering. Saya malu menghidangkannya untukmu, ya Rasulullah,” kata Ummu Hanik.

”Ayo, bawa kemari,” kata Rasulullah bersemangat, seolah-olah itu adalah hidangan yang mewah. Kemudian Ummu Hanik membawa serpihan roti, lalu Rasulullah memakannya dengan campuran air. Ummu Hanik menaburkan sedikit garam di atasnya, agar menambah sedikit rasa.

”Apakah ada lauk?” tanya Rasulullah lagi. Ummu Hanik mengatakan, bahwa tak ada lauk, hanya ada cuka saja.

”Alhamdulillah, sebaik-baknya lauk adalah cuka,” lalu Rasulullah melanjutkan makanan seolah-olah menghadapi hidangan istimewa. Beliau membaca hamdalah, menunjukkan rasa syukur yang hebat. Membesarkan hati sang tuan rumah. Bersyukur atas karunia. Dan semuanya terasa penuh berkah. Kisah ini ada dalam riwayat ath Thabrani dan juga shahih Bukhari-Muslim. Allahu akbar!

Saya tak ingin membicarakan orang lain. Saya justru ingin membicarakan diri saya sendiri. Sungguh, betapa banyak dalam peristiwa hidup ini, saya kerap memperbesar masalah yang sebetulnya sunguh-sungguh kecil. Dan sebaliknya, saya sering tak memandang anugerah kecil sebagai peristiwa-peristiwa besar.
Dua kisah di atas, saya tulis dengan tujuan besar mengingatkan diri saya sendiri, untuk tak terlalu memperbesar masalah-masalah yang seharusnya kita kecilkan. Dan semestinya membangun perasaan dan cara pandang, tentang anugerah-anugerah kecil sebagai rezeki yang luar biasa besar.

Tutupilah kekurangan-kekurangan, karena memang kekurangan dan kesalahan tak habisnya dan selalu muncul serta berulang. Sebab, manusia adalah tempatnya salah dan kurang. Jangan suka mencari-cari kesalahan, karena memang, kesalahan akan ditemukan jika dicari, dan dia pasti akan datang, bahkan tanpa diundang.

Ridha pada yang kecil. Syukur atas yang besar. Tutupi kesalahan, lengkapi kekurangan. Tak ada yang sempurna, dan jika itu membuat kita tersiksa, ada yang salah dengan sikap kita. Semoga Allah mengganti dengan segala kebaikan, atas kesabaran dan keridhaan yang telah kita lakukan pada semua kekurangan kecil yang tak penting. Nikmatilah hidup, jangan cengeng pada hal-hal yang enteng.

Sumber: http://www.sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1979:belajar-tidak-cengeng&catid=88:herry-nurdi&Itemid=288

Posted by: rfline0610
https://rahmatf06.student.ipb.ac.id

Tags: